ADAPTASI REVOLUSI INDUSTRI 4.0

SAMARINDA-Pendidikan SMK di Indonesia memiliki pertumbuhan yang pesat dengan jumlah 14.148 yang terdiri atas SMK Negeri 3.566 dan SMK Swasta 10.582. Jika dilihat dari jumlah siswa yang berjumlah 4.867.690 se-Indonesia dengan rincian yang bersekolah di SMK Negeri sejumlah 2.094.370 dan di SMK Swasta sejumlah  2.773.320 terlihat tidak berimbang dengan jumlah guru yang mengajar di SMK sebanyak 283.260 dengan rincian yang mengajar di SMK Negeri 139.198 dan di SMK Swasta 144.062.

Data yang didapat belum di break down lebih mendalam pada kompetensi guru yang mengajar dan jumlah sarana prasarana pendukung di sekolah. Melihat dari data tersebut, wajar saja jika secara kasat mata lulusan SMK menjadi penyumbang pengangguran terbesar di Indonesia dibandingkan lulusan SMA. Perhitungan Badan Pusat Statistik (BPS) Per Agustus 2017 mengumumkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menurut pendidikan tertinggi untuk lulusan SMK sebesar 11,41 persen. Lalu Sekolah Menengah Atas (SMA) 8,29 persen, Diploma I/II/III 6,88 persen dan Universitas 5,18 persen.

Data tersebut menunjukkan informasi positif dan negatif mengenai perkembangan pendidikan di SMK. Informasi positifnya adalah, pemerintah sangat mendukung pertumbuhan dan pengembangan SMK sebagai sekolah vokasi yang diharapkan mampu bersaing dengan angkatan kerja dari negara-negara ASEAN ketika bersaing pada bursa pasar bebas. Hal tersebut ditunjukkan dengan terus bertambahnya jumlah SMK di Indonesia.

Negatifnya, tidak semua lulusan SMK ingin bekerja sesuai dengan Kompetensi Keahlian mereka, kebanyakan setelah lulus mereka melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi sesuai dengan keinginan orang tua, mengapa keingingan orang tua? Karena orang tua beranggapan dengan kuliah akan meningkatkan taraf hidup keluarga dan mudah mendapatkan pekerjaan. Anggapan mudah mendapat pekerjaan bagi lulusan S-1 pun untuk saat ini salah kaprah juga. Kenyataannya di lapangan yang mengantre menjadi karyawan ojek online (OJOL) tidak sedikit dari lulusan S-1. Orang tua harus sadar dan memahami bahwa dunia industri hari ini tidak semata-mata melihat ijazah sebagai syarat menerima pelamar pada perusahaan mereka. Namun, keterampilan yang dibuktikan dengan sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi nasional atau internasional sesuai dengan kompetensi keahlian pelamar lah menjadi pertimbangan perusahaan.

Orang tua harus diberikan edukasi lebih dini, sebelum anak mereka lulus dari SMK, bahwa ketika lulus nanti, tidak cukup anak mereka hanya sekadar menerima ijazah, melainkan perlu dipersiapkan agar anak mengikuti program sertifikasi baik nasional maupun internasional yang dikelola oleh manajemen SMK. Peran aktif orang tua berkonsultasi ke pihak sekolah menjadi faktor penting untuk mengurangi pengangguran yang tersebar di negeri ini. Biaya yang dikeluarkan oleh orang tua untuk memfasilitasi anak untuk mendapatkan sertifikat memang tidak murah, tetapi jika berfikirnya untuk jangka panjang–karena anak adalah investasi dunia akhirat— maka jatuhnya pembiayaan tersebut menjadi murah dibandingkan jika anak dituntut memperoleh sertifikat secara mandiri ketika lulus, maka biaya yang dikeluarkan bisa dua sampai tiga kali lipat.

Di sisi yang lain, pemerintah perlu memikirkan instrumen pengukuran yang akurat untuk menelusuri data alumni SMK melalui aplikasi yang benar-benar praktis dan dapat diaplikasikan oleh tim Bursa Kerja Khusus (BKK) di sekolah. Sehingga, anggapan lulusan SMK menjadi penyumbang pengangguran terbesar di negeri ini dapat ditepis. Selain itu, SMK pun perlu berbenah menyongsong revolusi industri 4.0 yang notabene semua serba otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif. Penulis jadi teringat dengan Rhenald Kasali dalam buku beliau Cracking Zone yang menjelaskan tentang suatu kaidah, “Ketika ada kabar buruk maka tentunya ada kabar baik mengiringi kabar buruk tersebut, pun sebaliknya ketika ada kabar baik tentunya ada kabar buruk.” Menurut beliau, orang yang sukses pada kondisi demikian adalah seseorang yang mampu melihat peluang dari zona retakan yang terbentuk karena perubahan teknologi, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0 yang penulis kutip dari wikipedia. Prinsip-prinsip tersebut  membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0. yaitu Interoperabilitas (kesesuaian): Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP). IoT akan mengotomatisasikan proses ini secara besar-besaran. Transparansi informasi: Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi. Bantuan teknis: Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia. Keputusan mandiri: Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

Lihat saja, fenomena awal mula muncul telepon genggam sebesar batu bata yang harganya selangit, dan SIM Card perdananya pun harganya ratusan ribu harganya. Lalu, perusahaan teknologi melihat peluang agar teknlogi secanggih itu, tidak beredar di kalangan orang kaya saja. Lahirlah telepon genggam yang ringkas, walaupun monokrom tapi harga sudah mulai bersahabat diikuti oleh SIM Card yang harganya sudah puluhan ribu, bahkan paket telepon sms hampir-hampir Rp 0 bahkan istilah yang populer saat itu adalah freemium. Lahirlah pada masa itu generasi pengguna telepon genggam yang masif dan digunakan oleh semua lapisan masyarakat. Akhirnya, petaka untuk telepon kabel dan wartel yang terpaksa harus pensiun. Hari ini kita saksikan lagi bagaimana pengguna SMS pun mulai terjun bebas, karena perkembangan media sosial semacam whatsapp, BBM, Telegram, Line, dan sebagainya, sudah menawarkan sistem chatting hanya menggunakan sambungan internet. Sekarang sambungan suara pun berbasis pulsa dari sejumlah operator mulai menurun untuk di kota-kota besar.

Perkembangan teknologi hari ini yang berlaku pada industri, wajib diadaptasi oleh dunia pendidikan, agar lulusan dari SMK dapat diserap sesuai kebutuhan industri. Insan pendidikan harus membuka mata untuk melihat profesi-profesi yang diprediksi bakal punah karena teknologi. Sebut saja Teller Bank yang sekarang sudah bisa digantikan oleh mesin ATM yang mampu melakukan 85% pekerjaan teller bank semacam transfer, tarik tunai, membayar tagihan, hingga membeli pulsa. Kasir, di Amerika Serikat beberap toko besar dan negara-negara Barat lainnya sudah menyediakan sebuah mesin khusus untuk layanan mandiri para pembelinya. Nantinya, para pembeli bisa memindai dan melakukan pembayaran secara mandiri melalui mesin tersebut. Hingga saat ini, mesin mandiri tersebut diketahui sudah berjumlah 430.000 unit di seluruh dunia, meningkat hingga empat kali lipatnya dari tahun 2008 lalu. Agen perjalanan (travel agent), jika masyarakat beberapa tahun yang lalu harus membeli tiket secara manual pada agen perjalanan, maka sekarang dengan aplikasi yang dikembangkan melalui telepon pintar, urusan tiket pesawat kian mudah untuk didapatkan dan semuanya dapat dilakukan di rumah masing-masing.

Mari semua stake holder SMK, masyarakat, orang tua, dan dunia industri/usaha bekerjasama, menjalin komunikasi mengadaptasi revolusi industri 4.0 untuk menyiapkan peran bagi lulusan SMK khususnya SMK Negeri 7 Samarinda untuk 5 atau 10 tahun akan datang tidak hanya menjadi penonton di negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah. Relakah kita menyaksikan orang-orang asing yang menikmati hasil dari eksploitasi sumber daya alam di negeri yang kita cintai ini.

***

Oleh

M. Agus Kastiyawan

 

Sumber Rujukan

Kasali, Rhenald. 2011. Cracking zone: bagaimana memetakan perubahan di abad ke-21 & keluar dari perangkap comfort zone. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

http://datapokok.ditpsmk.net/

https://id.wikipedia.org/wiki/Industri_4.0

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3153245/lulusan-smk-jadi-pengangguran-paling-banyak-di-ri

https://tekno.kompas.com/read/2014/01/29/1727369/10.Profesi.yang.Terancam.Punah.Digantikan.Mesin